(Fasal) menjelaskan hawalah. Lafadz “al hawalah” dengan terbaca fathah huruf ha’nya. Dan ada yang menghikayahkan pembacaan kasrah pada huruf ha’nya.
Hawalah secara bahasa adalah pindah. Dan secara syara’ adalah memindah hak dari tanggungan muhil (yang memindah hutang) kepada tanggungan muhal ‘alaih (yang menerima tanggungan peralihan hutang).
Syarat akad hawalah ada empat.
Yang pertama adalah kerelaan muhil. Muhil adalah orang yang mempunyai tanggungan hutang.
Bukan muhal ‘alaih, karena sesungguhnya tidak disyaratkan ada kerelaan darinya menurut pendapat al ashah.
Hawalah tidak sah pada orang yang tidak memiliki hutang.
Yang kedua adalah penerimaan dari pihak muhtal. Muhtal adalah orang yang mempunyai hak berupa hutang yang menjadi tanggungan muhil.
Yang ketiga, keberadaan hutang yang dialihkan sudah berstatus menetap pada tanggungan.
Memberi qayyid “telah menetap” sesuai dengan apa yang disampaikan oleh imam ar Rafi’i.
Akan tetapi imam an Nawawi menentang pendapat tersebut di dalam kitab ar Raudlah.
Kalau demikian, maka yang dipertimbangkan di dalam hutang akad hawalah adalah harus sudah lazim (menetap) atau hendak lazim.
Yang keempat adalah cocoknya hutang yang berada pada tanggungan muhil dan muhal ‘alaih di dalam jenis, ukuran, macam, kontan, tempo, utuh dan pecahnya.
Dengan akad hiwalah, muhil sudah bebas dari tanggungan hutang kepada muhtal.
Muhal ‘alaih juga bebas dari tanggugan hutang kepada muhil.
Hak milik muhtal berpindah menjadi tanggungan muhal ‘alaih.
Sehingga, seandainya sulit mengambilnya dari muhal ‘alaih sebab bangkrut, memungkiri hutang dan sesamanya, maka muhtal tidak boleh menagih kepada muhil.
Seandainya muhal ‘alaih dalam keadaan bangkrut saat terjadi akad hawalah dan muhtal tidak mengetahuinya, maka dia juga tidak diperkenankan menagih kepada muhil.